Jumat, 16 Maret 2012

Ketika Cinta Mengalahkan Agama

Sinar mentari pagi menembus masuk melalui celah celah korden yang tak tertutup rapat.Membuat suasana kamar terlihat lebih terang.Berantakan.Selimut terjulur ke lantai.Buku buku berserakan,tak tertata rapi di atas meja seperti seharusnya.
Sinar mentari,yang masuk,tepat mengenai wajahku.Membuatku terbangun dari tidurku yang lelap.Masih terasa letih akibat begadang semalam.Dengan malas,aku coba bangun.Masih terduduk di atas ranjang,mengejap ngejapkan mata beberapa kali,agar pandanganku tidak kabur.Melihat angka yang ditunjuk jam weker,"mati aku!! Aku kesiangan!!!" teriakku panik saat sadar bahwa saat itu sudah tidak pagi lagi.Hari itu aku masuk kuliah pagi.Dan dosen pengajarnya terkenal killer,tidak segan segan dalam memberi hukuman.
Dengan cepat aku bangun,berlari ke kamar mandi.Tidak sampai 5 menit aku sudah keluar lagi.Bersiap siap berangkat.Tidak sempat atau bahkan tidak ingat untuk sarapan.

***

Sekitar 10 menit aku sudah sampai di halte,menunggu angkutan umum yang akan membawaku ke kampus.Aku tidak punya kendaran sendiri,jadi setiap berangkat kuliah aku naik kendaraan umum.Terkadang berangkat bersama teman yang memang membawa kendaraan sendiri.Tapi ini sudah siang mereka pasti juga sudah berangkat.
Aku menyeka keringat di dahiku.Berjalan kaki cukup jauh ditambah kepanikan yang aku rasakan membuatku berkeringat.Bahkan bajuku jadi sedikit lembab.
Aku duduk di sana menunggu.Melihat sekeliling."Ramai sekali.Banyak juga orang yang sedang menunggu angkutan,apa mereka semua juga bangun kesiangan?",pikirku iseng.
Aku terdiam,gerakan kepalaku terhenti saat melihat seorang gadis.Vira,seorang gadis berusia sekitar 18 tahun yang juga adalah temanku,satu kelas saat masih SMP.Kira kira sudah 4 tahun kami tidak bertemu.Saat ini dia ada di sini,di halte ini.Duduk di sana,hanya berjarak sekitar 5 meter dariku.Sedikit rasa tidak percaya aku rasakan.Aku yakinkan diriku.Pastikan bahwa dia memang benar Vira,sebelum aku datang menyapanya.
"Hai,Vira ya?",kataku menyapa setelah aku yakin bahwa dia adalah Vira,temanku.Aku tersenyum,menjulurkan tangan mengajak berjabat tangan.Dia terdiam.Terlihat raut mukanya campuran antara kaget dan bingung.
"Apa sudah lupa sama aku ya,Vir?",tanyaku lagi,sambil tetap tersenyum.Dia membalas jabatan tanganku.Untuk beberapa saat masih menunjukkan raut muka yang sama.Memperhatikanku dalam dalam.
"Eh,teddy ya?",katanya riang setelah menyadari bahwa yang sedang berdiri di hadapannya,mengajaknya bersalaman adalah aku.Teddy,teman sekelasnya sewaktu masih SMP.Raut mukanya kali ini berubah,terlihat lebih riang dari sebelumnya.Dia mempersilahkanku duduk di sebelahnya.Kami mengobrol,mengenang masa SMP saat masih satu kelas dulu.Sama sekali tidak terasa kaku,tidak kehabisan topik pembicaraan.
Dia terlihat masih sama,gaya berpakain yang sopan dan memakai jilbab.Wajahnya,malah terlihat lebih cantik dari saat masih SMP dulu.Senyumnya yang manis masih tetap sama,masih tetap terlihat manis.
"Sekarang kuliah dimana?",tanyaku.Dia menggelengkan kepala,"aku enggak kuliah" jawabnya.
"oh,enggak ngelanjutin kuliah.Kerja berarti ya,kerja dimana?".Dia menggelengkan kepalanya lagi,"enggak kerja juga" jawabnya singkat.
"oh,aku tahu.Kamu enggak kuliah juga enggak kerja,berarti jadi ibu rumah tangga ya?",kataku bergurau.Mengingat usianya yang masih muda,baru sekitar 18 tahun aku rasa itu tidak mungkin.Dia tersenyum tipis,tidak langsung menjawab.Raut mukanya berubah semu,terlihat murung."Iya,sekarang aku sudah jadi ibu rumah tangga",jawabnya lirih.
Aku berhenti tertawa.Terdiam membisu.Kaget mengetahui bahwa dia menikah muda."Eh,beneran? Menikah kapan? Aku kok enggak diundang?",tanyaku lagi setelah aku bisa menguasai diriku.Dia kembali hanya tersenyum.Menundukan kepala.Diam untuk beberapa saat.
Dia bercerita,dia menikah sekitar 2 tahun yang lalu.Saat dia masih duduk di kelas 2 SMA.Dia berhenti sekolah,menikah.Pergaulannya dengan pacarnya terlalu bebas.Hingga  terjadi "kecelakaan" yang sangat dia sesali.Dia hamil.Dia harus menikah,untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Aku terdiam,kaget mengetahui hal itu.Vira,teman sekelasku saat SMP yang dulu terkenal alim.Memiliki pengetahuan lebih dalam agama.Guru ngaji anak anak di mushola.Ternyata seperti ini.Aku benar benar tidak percaya.
Dia bercerita,rasa cinta dan bujukan dari pacarnya membuatnya buta untuk melihat apa yang benar dan apa yang salah.Rasa cinta pada pacarnya mengalahkan agamanya.
Aku menyesal telah bertanya.Membuatnya teringat kembali masa lalunya.Dia tertunduk malu,membisu.Kini semua impiannya hanya akan tetap menjadi impian.Dia pernah bercerita dia ingin menjadi dokter,tapi kini kesibukannya membuatnya tidak mungkin melakukan hal itu.Dia sibuk mengurus rumah,mengurus anak yang hampir genap berusia 2 tahun.Mengurus suaminya yang berprofesi sebagai montir di bengkel dekat rumahnya.
Tidak lama setelah itu angkutan umum yang akan dia naiki lewat.Dia pamit.Kami pun berjabat tangan,dia juga sempat memberiku nasehat agar tidak mengikuti langkahnya.Dia tidak ingin aku berakhir sama dengannya.
Sebuah senyuman dia tunjukan sebelum dia pergi,meski begitu dia masih tetap terlihat murung bagiku.Angkutan yang ia naiki mulai berjalan dan kami pun berpisah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar